Dalihnya akhirat, namun nyatanya yang dikejar tetap dunia.

Dalihnya akhirat, namun nyatanya yang dikejar tetap dunia.

Ini bukan hanya tentang aku atau kamu, tapi juga tentang mereka, tentang siapa saja yang pernah berdiri di antara dua arah: lisan yang menyeru pada akhirat, namun langkah yang justru sibuk membangun dunia.

Tidakkah tubuh itu merasa lelah?
Bukankah ia sudah berkali-kali memberi tanda?

Sebenarnya, apa yang sedang dicari dari semua peran itu?
Ketika ucapan terdengar begitu religius, tetapi kenyataan menunjukkan kecondongan yang berbeda.

Bukan berarti tidak ingin berjuang.
Bukan pula tentang siapa yang paling benar.

Namun Allah Maha Mengetahui ke mana hati lebih condong, dan pada hal apa seseorang benar-benar bersungguh-sungguh.

Percayalah, berjalan sendirian itu melelahkan.
Walau kadang masih ada yang menaungi, tapi payung tidak selalu terbuka sepanjang hari. Ia hanya hadir saat hujan turun.

Dan dari situlah kita belajar:
di mana seseorang menaruh loyalitas, perhatian, dan effort lebih, di situlah sesuatu akan tumbuh.

Seperti pohon yang memiliki ranting-ranting, setiap perjuangan pun membutuhkan tim dan keterikatan yang kuat. Pohon menjadi rindang bukan karena berdiri sendiri, tetapi karena akarnya kokoh dan cabangnya saling menguatkan.

Jika memang harus tumbuh, maka tumbuhlah bersama ke atas—
bukan saling miring ke samping hingga kehilangan arah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HUJAN NOVEMBER

Hidup di Antara Kesalahan

About your life